21/04/2026

Berita Terkini

berita update dan terpercaya

Meniti Jalan Spiritual: 94 Jemaah Naqsyabandiyah Mulai Jalani Ritual Suluk di Kaur

KAUR – Suasana khidmat menyelimuti Gedung Pelatihan Rohani Desa Aur Ringit, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur. Perkumpulan Pengajian Ilmu Tasawuf Thoriqoh Naqsyabandiyah Indonesia (PPITNI) asuhan Buya Syekh Muhammad Rasidsyah Fandi secara resmi membuka kegiatan ibadah Suluk atau Khalwat Fijawat, Sabtu (21/2/2026).

Kegiatan spiritual yang rutin dilaksanakan setiap menyambut bulan suci Ramadan ini dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Kaur. Bupati Gusril Pausi, M.AP., yang diwakili oleh Asisten III, Ir. Herwan, turut hadir bersama perwakilan Kapolres Kaur melalui Kanit Sosbud, anggota Dandim 0408 BSK, serta Camat Tanjung Kemuning.

Ketua Panitia Pelaksana, Ramadan Syahri, mengungkapkan bahwa antusiasme jemaah pada gelombang pertama ini cukup tinggi. Tercatat sebanyak 94 peserta telah mendaftarkan diri untuk mengikuti prosesi penyucian diri tersebut.

“Peserta gelombang pertama ini berjumlah 94 orang, terbagi rata antara 47 jemaah laki-laki dan 47 jemaah perempuan. Mereka datang dari berbagai penjuru, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Selatan, hingga jemaah lokal dari Provinsi Bengkulu sendiri,” ujar Ramadan saat menyampaikan laporannya.

Ritual ibadah Suluk gelombang pertama ini dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari sebelas malam. Para jemaah akan memfokuskan diri pada zikir dan ibadah intensif yang dimulai pada hari ketiga Ramadan hingga hari kedua belas Ramadan mendatang.

Sementara itu, Buya Basiril Arofi selaku Guru Pembimbing ibadah Suluk menjelaskan esensi mendalam dari kegiatan khalwat ini. Menurutnya, Suluk bukan sekadar berdiam diri, melainkan sebuah metode untuk membersihkan aspek kerohanian manusia.

“Tujuan utama Suluk ini adalah membimbing jemaah untuk membersihkan diri secara rohani dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Kita berharap ajaran dan hukum Tuhan tegak di dalam hati para murid,” terang Buya Basiril.

Ia menambahkan, apabila nilai-nilai ketuhanan telah tertanam kuat di dalam hati, maka hal tersebut akan terpancar melalui perilaku sehari-hari. “Jika hukum Tuhan sudah tegak di dalam diri, maka secara nyata ucapan dan perbuatan murid akan menjadi baik dan benar,” pungkasnya.

Selama prosesi berlangsung, para jemaah akan mendapatkan pengawasan dan bimbingan ketat guna memastikan ibadah berjalan lancar serta sesuai dengan syariat dan metode thoriqoh yang diajarkan.

Laporan: Oxi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *