Opini: Menyoal Transparansi Dana BOS SMA 10 Pentagon Kaur: Guru Terabaikan, Administrasi Membengkak?
KAUR, — Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sejatinya adalah urat nadi pendidikan demi mewujudkan kesetaraan kualitas belajar bagi para murid. Namun, potret pengelolaan keuangan di SMA Negeri 10 Kaur (Pentagon), Kabupaten Kaur, Bengkulu, memicu tanda tanya besar terkait efisiensi dan skala prioritas anggaran yang disusun oleh pihak manajemen sekolah.
Berdasarkan data salur Dana BOS Reguler Tahun Anggaran 2024, sekolah yang kini dipimpin oleh Kepala Sekolah Yeye Hendri ini menerima total dana sebesar Rp 139.265.000 untuk 161 siswa penerima. Jika membedah rincian penggunaannya, tampak ketimpangan alokasi yang sangat mencolok dan patut menjadi bahan evaluasi publik.
Menyorot Porsi Raksasa Administrasi Sekolah
Titik paling krusial yang mengundang perhatian adalah pos anggaran administrasi kegiatan sekolah yang menembus angka Rp 92.249.000. Angka fantastis ini memakan lebih dari 66% atau dua pertiga dari total keseluruhan dana BOS yang diterima sekolah dalam setahun.
Muncul pertanyaan jurnalisme yang mendasar: kegiatan administrasi seperti apa yang menghabiskan biaya sekian besar untuk sekolah berkapasitas 161 siswa? Ketika uang negara mayoritas habis hanya untuk urusan birokrasi meja dan kertas, dikhawatirkan esensi utama peningkatan mutu akademis siswa justru terpinggirkan.
Ironi Nol Rupiah untuk Kompetensi Guru
Di sisi lain, potret kontras terlihat jelas pada komitmen peningkatan kapasitas pengajar. Anggaran untuk pengembangan profesi guru dan tenaga kependidikan tercatat sebesar Rp 0.
Dengan total 28 guru dan tenaga kependidikan yang mengabdi di SMAN 10 Kaur, kebijakan nihil anggaran ini dinilai sangat ironis. Bagaimana sekolah berakreditasi B ini bisa mendongkrak mutunya menjadi unggul (Akreditasi A) jika investasi terhadap peningkatan kompetensi para gurunya sama sekali tidak mendapatkan porsi anggaran dari dana BOS? Guru dituntut adaptif terhadap kurikulum baru, namun dukungan finansial institusinya berada di titik nol.
Minimnya Anggaran Fasilitas dan Pemeliharaan
Ketidakseimbangan ini kian nyata jika melihat sektor penunjang langsung siswa:
- Pengembangan Perpustakaan: Hanya dialokasikan sebesar Rp 19.950.000.
- Pemeliharaan Sarana dan Prasarana: Hanya kebagian Rp 9.173.000.
- Kegiatan Pembelajaran dan Ekstrakurikuler: Dianggarkan minim sebesar Rp 7.400.000.
- Penyediaan Alat Multimedia Pembelajaran: Rp 0.
Sarana fisik, teknologi multimedia, dan kegiatan ekstrakurikuler adalah elemen vital yang bersentuhan langsung dengan kenyamanan belajar siswa setiap hari. Anggaran pemeliharaan yang di bawah 10 juta rupiah tentu sangat mepet untuk merawat fasilitas gedung sekolah dalam setahun.
Catatan Kritis Jurnalisme
Transparansi dan akuntabilitas adalah harga mati dalam pengelolaan dana publik. Alokasi Dana BOS SMAN 10 Kaur Pentagon mencerminkan sebuah tata kelola yang tampak lebih condong membiayai operasional kantor ketimbang mendanai peningkatan kualitas sumber daya manusia (guru) dan pemenuhan fasilitas belajar siswa.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu bersama jajaran pengawas sekolah sudah sepatutnya melakukan evaluasi mendalam terhadap Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) SMAN 10 Kaur ini. Pengalihan porsi anggaran yang lebih proporsional ke sektor peningkatan mutu guru dan fasilitas siswa wajib dilakukan, agar dana BOS benar-benar menjadi solusi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Kaur, bukan sekadar anggaran habis pakai di meja administrasi.
Penulis: Khairul Iksan
